Keaktifan Berorganisasi di Kalangan Mahasiswa Bukan Sekadar Kegiatan Tambahan
Kehidupan perkuliahan tidak hanya berbicara tentang nilai akademik semata. Di luar ruang kelas, mahasiswa memiliki ruang lain untuk berkembang yaitu organisasi kemahasiswaan. Baik dalam bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa (Hima), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), maupun komunitas-komunitas lain di lingkungan kampus. Organisasi sering kali dipandang sebelah mata serta dianggap sebagai kegiatan tambahan yang tidak berkaitan langsung dengan capaian akademik. Padahal keaktifan berorganisasi memberikan banyak manfaat yang tidak selalu bisa didapatkan di dalam kelas, seperti kemampuan memimpin, berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, mengelola waktu, hingga menyelesaikan masalah secara langsung di lapangan. Penelitian menunjukkan bahwa keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi berkontribusi nyata terhadap penguasaan soft skill, khususnya kemampuan kepemimpinan yang dibutuhkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja (Wijiharta et al., 2022).
Meskipun demikian keaktifan berorganisasi bukan tanpa risiko. Banyak mahasiswa yang mengikuti organisasi justru lebih mementingkan organisasinya dibanding urusan akademik, sehingga berdampak negatif terhadap prestasi belajarnya (Sofyan et al., 2023). Konflik peran antara tuntutan organisasi dan tuntutan akademik juga terbukti berdampak nyata. Konflik peran ini dapat menyebabkan keterlambatan penyelesaian tugas, penurunan motivasi akademik, hingga nilai yang lebih rendah pada mahasiswa organisatoris. Bahkan, ditemukan pula bahwa konflik peran organisasi berkontribusi terhadap burnout akademik di kalangan mahasiswa yang aktif berorganisasi, terutama pada mahasiswa dengan beban studi tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa tanpa manajemen waktu dan prioritas yang jelas, keaktifan berorganisasi berpotensi mengorbankan capaian akademik mahasiswa itu sendiri.
Dampak positif dan negatif ini pada akhirnya kembali pada bagaimana mahasiswa mengelola keseimbangan antara organisasi dan akademik. Dukungan dari institusi pendidikan serta kemampuan manajemen waktu yang efektif diperlukan agar mahasiswa dapat memaksimalkan manfaat organisasi tanpa mengorbankan prestasi belajarnya (Renato et al., 2024).
Pada kegiatan DISKARA (Diskusi Asah Skill Bicara) yang dilaksanakan pada 8 Maret 2026, peserta mendiskusikan topik yang tak kalah menarik untuk diperbincangkan di kalangan mahasiswa. Dengan mengundang salah satu Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) UKM KIPM periode 2024/2025, yaitu Saudari Fatih Durrotul Jannah sebagai pemateri yang memandu peserta DISKARA untuk membahas topik "Keaktifan Berorganisasi di Kalangan Mahasiswa Bukan Sekadar Kegiatan Tambahan". Kegiatan diskusi dibuka oleh Kholifatul dari tim pro yang berpendapat bahwa organisasi penting bagi mahasiswa karena melalui organisasi mahasiswa mendapatkan pembelajaran yang tidak diperoleh di ruang kelas biasa, menurutnya kegiatan organisasi juga membangun ikatan lekeluargaan yang erat antar anggotanya. Pendapat ini juga diperkuat oleh Bagaskara yang menambahkan bahwa organisasi memiliki peran penting dalam pengembangan diri dan persiapan karier mahasiswa. Menurutnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi cenderung lebih siap memasuki dunia kerja dibandingkan mahasiswa yang hanya fokus kuliah. Hal ini karena mengikuti organisasi membuat kita dibekali pengalaman menjadi koordinator atau ketua panitia sehingga turut mengasah soft skill dan kemampuan public speaking, sekaligus memperluas relasi dan jaringan (networking).
Selanjutnya, Rafha menyampaikan bahwa dengan berorganisasi mahasiswa akan lebih mudah mengakses informasi. Menurutnya, mahasiswa yang aktif berorganisasi cenderung lebih mudah memperoleh informasi terbaru seputar perlombaan, beasiswa, maupun berbagai kesempatan lain yang bermanfaat bagi pengembangan diri. Hal ini terjadi karena dalam organisasi, mahasiswa terhubung dengan berbagai relasi dan jaringan yang memudahkan penyebaran informasi-informasi penting tersebut. Pendapat tersebut kemudian diperkuat oleh Aida yang menyatakan bahwa keikutsertaan dalam organisasi turut membentuk pola pikir mahasiswa menjadi lebih kritis. Ia menekankan bahwa terdapat perbedaan pola pikir yang cukup terlihat antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan yang tidak.
Pernyataan mengenai organisasi yang mempererat kekeluargaan mendapat sanggahan dari tim kontra yaitu Alysa. Menurutnya pada kenyataannya masih banyak ditemukan bullying dan sikap membeda-bedakan antar anggota di dalam organisasi. Selain itu, beberapa anggota organisasi juga hanya tercatat sebagai anggota saja dan tidak benar-benar aktif menjalankan program kerja yang ada. Aisy kemudian juga menambahkan bahwa kemampuan kepemimpinan tidak hanya bisa diperoleh melalui organisasi, tetapi juga dapat dikembangkan melalui kegiatan akademik seperti perkuliahan. Oleh karena itu, menurutnya organisasi tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya hal penting yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa. Citra juga menyampaikan pandangan serupa, bahwa organisasi memang dapat menambah pengalaman tetapi bukan menjadi prioritas utama mahasiswa, karena tujuan utama seorang mahasiswa adalah belajar. Ia mengakui bahwa organisasi bisa menjadi sarana melatih soft skill dan memperluas relasi, namun hal tersebut menurutnya juga dapat diperoleh melalui kegiatan lain, tidak harus melalui organisasi.
Pandangan ini diperkuat oleh Aisyah yang berpendapat bahwa keikutsertaan dalam organisasi justru berpotensi menurunkan motivasi belajar sehingga dapat berdampak pada penurunan prestasi akademik. Ia menambahkan bahwa pengalaman tidak hanya bisa didapat melalui organisasi tetapi juga dapat diperoleh lewat penelitian, magang, dan kegiatan lainnya. Selain itu, beban administrasi dalam organisasi dinilai turut mengganggu jalannya perkuliahan.Sebagai tanggapan penutup, Anis berpendapat bahwa organisasi tidak selalu menjadi prioritas utama karena kerap membuat mahasiswa pulang hingga larut malam. Hal ini menurutnya dapat memengaruhi citra di lingkungan masyarakat. Ia juga menanggapi argumen tim pro soal kemampuan public speaking dengan menegaskan bahwa kemampuan tersebut tetap dapat dilatih tanpa berorganisasi, misalnya melalui kegiatan presentasi yang dilakukan di dalam kelas.
Titik terang dari diskusi tim pro dan tim kontra adalah bahwa keaktifan berorganisasi memang bukan sekadar kegiatan tambahan, karena terbukti memberikan manfaat nyata berupa soft skill, relasi, dan kesiapan karier bagi mahasiswa. Namun kegiatan organisasi juga bukan satu-satunya jalan wajib yang harus diikuti setiap mahasiswa, sebab manfaat serupa bisa diperoleh lewat jalur lain seperti perkuliahan, magang, ataupun mengikuti kegiatan penelitian. Selain itu untuk persoalan negatif seperti bullying, anggota pasif, atau turunnya motivasi belajar bukan berarti organisasi itu buruk melainkan menunjukkan bahwa manfaatnya sangat bergantung pada bagaimana organisasi dikelola dan bagaimana mahasiswa menjalankan perannya dengan sungguhsungguh.
DAFTAR PUSTAKA
Renato, A. A., Sudiantini, D., Amalia, A. P., Elisa, H. F., Janah, S. R., Bhayangkara, U., & Raya,
J. (2024). MAHASISWA Pendahuluan. 2(5), 553–566.
Sofyan, M., Iskandar, R. S., Farhan, R. D., & Zuhro’ Fitriana, A. Q. (2023). Pengaruh Organisasi
Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Di UIN KH. Achmad Siddiq Jember. Jurnal
Ekonomika Dan Bisnis (JEBS), 3(2), 243–245. https://doi.org/10.47233/jebs.v3i2.770
Wijiharta, W., Priastomo, T., Murtadlo, M. B., & Basyariah, N. (2022). Pengembangan Soft skill
Leadership Mahasiswa Melalui Keaktifan dalam Organisasi Kemahasiswaan. 02(01), 1–6.
Komentar
Posting Komentar